Underground Cities
efek psikologis tinggal dan beraktivitas di bawah tanah tanpa sinar matahari
Pernahkah kita membayangkan sebuah kehidupan di mana payung dan tabir surya tinggal kenangan? Bayangkan kita bangun tidur, pergi ke kantor, nongkrong di kafe, hingga pulang kembali ke rumah, tanpa sekalipun melihat langit. Semuanya terjadi di perut bumi. Terdengar seperti plot film fiksi ilmiah distopia, bukan? Tapi kenyataannya, ini sudah terjadi. Di kota Coober Pedy, Australia, sebagian besar penduduknya tinggal di dalam gua bekas tambang untuk menghindari suhu panas yang ekstrem. Di Montreal, Kanada, ada jaringan bawah tanah bernama RÉSO sepanjang 32 kilometer agar warga tetap bisa beraktivitas santai saat badai salju menerjang di atas sana. Sekilas, hidup di bawah tanah terdengar seperti solusi modern yang cerdas. Terlindung dari cuaca buruk, aman, dan sangat efisien. Tapi, mari kita renungkan sejenak. Benarkah sesederhana itu?
Sebenarnya, naluri kita untuk bersembunyi di bawah tanah bukanlah hal yang benar-benar baru. Kalau kita melongok sedikit ke sejarah, ribuan tahun lalu manusia membangun Derinkuyu di Kapadokia. Itu adalah sebuah kota bawah tanah raksasa yang bisa menampung 20.000 orang beserta hewan ternak mereka, demi bertahan hidup dari invasi musuh. Sekarang, motivasi kita sedikit bergeser. Dengan ancaman krisis iklim dan makin sempitnya lahan di permukaan, negara-negara seperti Singapura dan Finlandia mulai serius merancang cetak biru underground cities alias kota bawah tanah masa depan. Secara teknis dan arsitektur, peradaban kita sangat mampu membangun mal, apartemen, atau bahkan taman bermain di bawah tanah. Udara bisa disaring dengan teknologi mutakhir, suhu bisa diatur presisi, dan lampu neon bisa menyala 24 jam. Secara logika teknik, kita seharusnya baik-baik saja. Namun, pelan-pelan muncul satu pertanyaan besar yang sering luput dari gambar kerja para insinyur. Bagaimana dengan nasib pikiran kita?
Di sinilah semuanya menjadi jauh lebih rumit dan personal, teman-teman. Kita sering lupa bahwa tubuh dan otak yang kita pakai sekarang pada dasarnya adalah "mesin" purba. Tubuh ini berevolusi di padang rumput yang terbuka, berburu di bawah terik matahari, dan terlelap saat malam turun dengan gelap gulitanya. Ketika kita memindahkan mesin purba ini ke dalam kotak beton tertutup tanpa cahaya alami, sesuatu di dalam otak kita akan mulai memberontak. Pernahkah kita merasa sangat penat, linglung, atau murung saat seharian penuh terkurung di ruangan tanpa jendela? Sekarang, kalikan perasaan itu seratus kali lipat. Para peneliti yang mempelajari kehidupan jangka panjang di bawah tanah mulai menemukan pola yang menggelisahkan. Orang-orang melaporkan hilangnya motivasi, rasa lelah yang konstan, hingga perasaan terputus dari realitas atau disosiasi. Mengapa hal ini bisa terjadi? Apa yang sebenarnya diam-diam direnggut dari kita saat kita berhenti menatap bentangan awan?
Jawabannya ada pada sebuah bidang ilmu yang memukau bernama chronobiology. Tubuh kita memiliki jam biologis internal yang sangat purba, yang kita kenal sebagai ritme sirkadian. Ritme ini sangat, sangat bergantung pada satu hal: cahaya matahari. Di tahun 1962, seorang ilmuwan Prancis bernama Michel Siffre melakukan eksperimen ekstrem. Ia mengisolasi dirinya di dalam gua bawah tanah yang gelap gulita selama dua bulan, tanpa jam, tanpa kalender, dan tanpa akses cahaya luar. Hasilnya sangat mengejutkan. Siklus tidurnya kacau balau, dan persepsinya terhadap waktu benar-benar rusak. Saat ia dikeluarkan dari gua, ia yakin baru berada di sana selama satu bulan, padahal sudah dua bulan penuh berlalu. Tanpa paparan sinar matahari, produksi hormon melatonin (pengatur tidur) dan serotonin (penstabil mood) di otak kita menjadi berantakan. Akibatnya secara hard science sangat jelas: kita menjadi jauh lebih rentan terhadap depresi, kecemasan, dan kelelahan kronis.
Lebih dari sekadar keseimbangan zat kimia otak, ada juga efek psikologis mendalam dari ketiadaan horizon. Secara evolusioner, mata kita butuh melihat pemandangan jarak jauh untuk merasa aman dari predator. Di bawah tanah, pandangan kita selalu terhalang oleh tembok dan langit-langit. Ini memicu claustrophobia spasial yang halus namun berkelanjutan, sebuah sinyal alarm dari amigdala (pusat rasa takut di otak) yang terus berbisik pelan: "Kita sedang terjebak". Belum lagi ketiadaan cuaca. Kehilangan kontak dengan rintik hujan, embusan angin, atau perubahan warna langit membuat kita mengalami sensory deprivation atau perampasan sensorik. Otak kita, yang sangat haus akan variasi rangsangan dari alam semesta, akhirnya menjadi tumpul dan rentan mengalami stres kronis yang tidak disadari.
Pada akhirnya, wacana tentang kota bawah tanah memaksa kita untuk bercermin secara mendalam. Kita memang spesies yang sangat tangguh dan cerdas. Kita bisa merancang teknologi sirkulasi udara paling canggih sedunia, atau menciptakan lampu LED yang meniru spektrum matahari secara sempurna. Namun, sains dan psikologi dengan lembut mengingatkan kita pada satu batas yang sangat fundamental. Kita tidak bisa menipu DNA kita sendiri. Kita, pada esensinya, adalah makhluk permukaan bumi. Matahari bukan sekadar mesin pembuat vitamin D, melainkan jangkar psikologis yang menjaga kita tetap terhubung dengan realitas, waktu, dan makna. Jika suatu hari nanti krisis iklim memaksa kita masuk ke bawah tanah demi bertahan hidup, tantangan terbesar umat manusia bukanlah bagaimana membangun pilar beton penyangga yang kuat. Tantangan terbesar kita adalah bagaimana merawat kemanusiaan, empati, dan kewarasan kita di tempat di mana matahari tak pernah terbit.